Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Pesan Pencopet Kepada Pacarnya (W. S. Rendra)

Sitti,
kini aku makin ngerti keadaanmu
Tak ‘kan lagi aku membujukmu
untuk nikah padaku
dan lari dari lelaki yang miaramu

Nasibmu sudah lumayan
Dari babu dari selir kepala jawatan
Apalagi?
Nikah padaku merusak keberuntungan
Masa depanku terang repot
Sebagai copet nasibku untung-untungan
Ini bukan ngesah
Tapi aku memang bukan bapak yang baik
untuk bayi yang lagi kau kandung

Continue reading


5 Comments

Kritik Sosial dalam Film Warkop

Mat Solar minta saran dari Indro bagaimana cara bercakap yang paling baik dengan pamannya yang sedang dirawat rumah sakit. Indro pun memberikan beberapa skenario percakapan.

“Gimana keadaan Paman sekarang? Banyak kemajuan?”, tanya Mat Solar.

“Kemajuan apa? Kalau begini, satu dua minggu lagi mungkin aku akan mati!”

Mat Solar yang agak budek tidak dapat mendengar jawaban Pamannya yang di luar dugaan. Padahal dalam skenario awal Indro memprediksi, karena sudah cukup lama dirawat, Pamannya itu pasti bakal menjawab, “Yah, udah banyak kemajuan, tinggal nunggu sembuhnya aje”. Mat Solar pun dengan amat percaya diri dan sambil tersenyum lebar menyahut sesuai hapalannya.

“Sukur, saya doakan biar makin cepat.”

Tentu sang Paman amat kaget, Indro tidak terkecuali. Tetapi karena gagap, dia tidak dapat membetulkan temannya yang terus nyerocos. Sialnya, jawaban-jawaban Pamannya tidak ada yang cocok dengan hapalannya. Jadilah dua sekawan itu diusir oleh Paman.

Itu adalah sepenggal adegan dalam film “Dongkrak Antik” (1982). Sebuah satir yang dikemas dengan amat lucu oleh Warkop DKI. Indro dan Mat Solar adalah simbol dari keadaan sosial masyarakat Indonesia saat itu. Budaya hapalan mati tanpa paham esensi ada dimana-mana. Mat Solar adalah representasi siswa sekolah yang menjejali otaknya dengan berlembar-lembar buku pelajaran. Indro pun juga valid untuk mewakili pemerintah yang “memaksa” rakyatnya untuk ikut pengayaan Pancasila dan UUD 1945, tanpa mengerti sesungguhnya apa makna dari sila per sila.

Continue reading


1 Comment

Pentingnya Zakat dan Shodaqoh

Pagi ini terjadi diskusi yang cukup seru tentang besaran zakat dan shodaqoh di grup BBM alumni SMP. Diskusi ini membuat saya jadi merenungkan beberapa hal.

Saya tidak bermaksud untuk riya’. Di keluarga, kami selalu diajarkan untuk membagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan. Mas Hari yang paling banyak mencontohkan (baca: Anak sulung yang ideal). Selayaknya orang Jawa, saya tidak pernah secara langsung diberitahu harus begini-begitu. Hikmah kehidupan diberikan secara implisit dan harus dipelajari sendiri. Dari kecil saya sering sekali melihat Mas Hari, Mbak Eni, dan orangtua datang ke saudara-saudara dan tetangga-tetangga yang tidak mampu. Mereka silaturahim sekaligus memberikan sedikit uang, sebagai bagian dari zakat dan shodaqoh.

Kejadian-kejadian itu terekam baik di otak saya. Ketika sudah besar, saya pun berusaha mencontoh. Penghasilan saya sebagai seorang dosen itu tidak menentu seperti pekerja kantoran yang lain. Selain gaji yang datang tiap bulan, kadang turun honor dari proyek konsultansi, riset penelitian, atau honor saat diundang menjadi narasumber di kantor pemerintah. Setiap kali dapat uang, saya langsung potong minimal 2,5%. Uang perjalanan (SPPD) pun saya potong. Tidak lupa juga saat investasi saya berupa sapi, kambing, ikan gurame, dan angkot menghasilkan uang, langsung saya sisihkan alokasi untuk zakat. Supaya tenang dan tidak tercecer.

Continue reading


Leave a comment

Potret pendidikan di Indonesia

Saya dapat gambar ini dari grup Whatsapp kantor. Waktu itu Pak Muhammad Faisal, senior saya di Teknik Industri ITB yang mengirimkan. Sepertinya beliau sedang menonton berita di TV, dan kemudian memotretnya.

Statistik umum jenjang pendidikan angkatan kerja di Indonesia

Statistik umum jenjang pendidikan angkatan kerja di Indonesia

Saya cukup kaget lihat statistiknya. Bukan soal jumlah pengangguran yang masih sebesar 7,5 juta jiwa, atau sama dengan jumlah penduduk di Provinsi Sumatera Selatan. Tetapi soal rendahnya jumlah serapan pendidikan tinggi. Saya tahu memang tidak terlalu banyak penduduk Indonesia yang melanjutkan kuliah. Tetapi tidak mengira bahwa angkanya akan sedramatis ini. Continue reading


5 Comments

Tidak Enakan

Beberapa orang bilang kalau saya orangnya sangat blak-blakan. Saya tidak pernah sakit hati mendengar komentar ini, karena ibu dan istri saya sendiri juga bilang hal yang sama, hehe. Bahkan, ada teman yang bilang bahwa saya ini kurang cocok menjadi orang Jawa. Sifat saya lebih seperti orang bule.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa I am frank. Dari dulu saya punya prinsip, “I would rather hurt you honestly than mislead you with a lie”. Saya kurang suka berbasa-basi. Buat saya, kejujuran dan keterbukaan itu nomor satu. Seperti kata orang Jawa Timur, “abang ngomong abang, ijo ngomong ijo”. Arti harfiahnya, “merah bilang merah, hijau bilang hijau”. Kalau diselami maknanya, kira-kira, “bicaralah apa adanya”. Continue reading


Leave a comment

MRT dan Perencanaan Transportasi Publik yang Terlambat

Kemacetan di Jakarta. Foto diambil di depan Mall Sunter, saat sore hari jam pulang kantor.

Kemacetan di Jakarta. Foto diambil di depan Mall Sunter, saat sore hari jam pulang kantor.

Berita bahwa pembangunan jalur dalam tanah angkutan massal cepat (MRT) di Jakarta masih sesuai dengan jadwal, semestinya kita sambut dengan sukacita. Presiden Jokowi sendiri yang menyatakan, bahwa proyek pembangunan MRT tersebut merupakan tonggak sejarah transportasi nasional.

Sebaiknya memang Jakarta MRT selesai pada tahun 2018, sesuai dengan yang sudah dijadwalkan, walaupun itu sebetulnya baru satu koridor Utara-Selatan. Mengingat sebetulnya Indonesia sudah sangat terlambat dalam merencanakan transportasi publik yang bagus, khususnya transportasi dalam kota.

Keterlambatan Perencanaan

Saat ini terdapat 191 kota di 60 negara yang memiliki MRT (World Metro Database). Sayangnya, Indonesia belum termasuk di antaranya. Continue reading


Leave a comment

Hidup di Luar Negeri

Setelah hampir tiga tahun tinggal di Belanda, menurut saya ada satu hal distinctive (pembeda) antara negara maju dengan negara berkembang.

Apakah itu pendapatan? Rasanya tidak. Pajak penghasilan disini progresif sadis. Bisa sampai 50%. Maka di Belanda, pendapatan setiap orang tidak jauh beda satu dengan yang lain. Sedangkan di Indonesia, lulusan perguruan tinggi ternama bisa dengan nyaman menikmati pendapatan tinggi. Contoh, menurut survei, alumni S1 salah satu PTN yang baru bekerja 2-3 tahun, rataan pendapatannya sudah 3 kali lipat pendapatan per kapita Indonesia. Continue reading


Leave a comment

Nasib buruh tani

Buruh tani di Semboro

Seorang buruh tani Jawa dan cucu perempuannya. Lelaki ini bekerja di kebun jeruk keluarga kami. Dia dibayar Rp. 250.000 (Euro 17) sebulan, sudah lebih tinggi dari upah pada umumnya. Dia biasanya bekerja 4-5 hari sebulan, dan dia bisa bekerja di beberapa sawah. Buruh tani tidak memiliki sawah. Mereka mendapatkan uang dengan menjual tenaganya kepada pemilik lahan yang membutuhkan. Meskipun sangat terampil, sangat lumrah menemui buruh tani yang hidup dalam kemiskinan. Bahkan mereka tidak berani bermimpi untuk kelak suatu hari, mereka akan memiliki sepetak sawah yang paling kecil. Selalu bersyukurlah dengan apa yang Anda miliki.

Semboro, Jember 30 Oktober 2015, jam 6:30 WIB


7 Comments

Tidak (Perlu) Bangga Kuliah di ITB

Pertama kali masuk ITB, rasa bangga itu begitu mendalam. Apalagi datang dari daerah seperti saya. Rasanya “wow” sekali bisa diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Perasaan jumawa ini sebetulnya cukup masuk akal. Contoh, untuk bisa diterima di Teknik Industri ITB, seseorang harus ada di sekitar persentil 90 ujian masuk PTN. Artinya, kalau peserta ujian ada 300 ribu, berarti ada 270 ribu siswa SMA se-Indonesia yang nilainya ada di bawah mahasiswa baru TI ITB itu. Continue reading


Leave a comment

Nasihat orang tua

Beberapa ajaran dari orang tua yang sampai sekarang masih saya percaya manfaatnya, dan terus coba dilakukan meskipun terkadang sulit:

  1. Jangan meminta kepada Tuhan supaya keinginanmu terkabul, tetapi mintalah supaya kamu selalu diberikan yang terbaik. Karena belum tentu kesenangan itu adalah sesuatu yang baik bagi kamu. Sebaliknya, bisa jadi kesusahan itu adalah hal bisa mendorongmu untuk menjadi orang yang lebih baik.
  2. Jangan terlalu senang pada saat kamu mendapatkan hal yang baik. Sehingga, pada saat kamu mendapatkan hal yang buruk, kamu tidak menjadi orang yang terlalu kecewa.
  3. Penyakit itu datangnya dari hati yang terlalu senang dan terlalu sedih. Maka, apapun yang terjadi ke kamu; senang, bahagia, kecewa, sakit, segera lupakan.
  4. Kualitas seseorang itu tidak diukur dari hartanya. Tetapi dari nilai, akhlak dan moralitas dia dalam menjalani kehidupan.
  5. Kamu itu harus berani, jangan penakut dalam menjalani lika-liku kehidupan. Punyalah hati yang seluas lautan. Jangan punya hati yang hanya seluas kobokan.
  6. Tidak perlu malu jika suatu saat kamu melakukan pekerjaan kasar. Selama tidak mencuri, tidak boleh kamu malu. Kalau sudah kehilangan iman, baru boleh kamu malu.
  7. Kamu itu tidak mungkin bakal bisa mengerti segala macam romantika kehidupan di dunia ini.
  8. Selalu bersabarlah apapun yang terjadi (ini nasihat yang paling sulit dilaksanakan).

 

Groningen, 1 Januari 2015, jam 09:46 CET